Sabtu, 31 Maret 2018

NARKOTIKA DAN PSIKOTROPIKA DALAM PERUNDANG-UNDANGAN DI INDONESIA


NARKOTIKA DAN PSIKOTROPIKA DALAM PERUNDANG-UNDANGAN DI INDONESIA
Ervina Mardiani[1]
Perbandingan Madzhab dan Hukum
Abstrak : Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sitensis maupun semi sitensis maupun semi sintesis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan.
Narkotika merupakan zat atau obat yang sangat bermanfaat dan diperlukan untuk pengobatan penyakit tertentu. Namun, jika disalahgunakan atau digunakan tidak sesuai dengan standar pengobatan dapat menimbulkan akibat yang sangat merugikan bagi perseorangan atau masyarakat khususnya generasi muda. Narkotika digolongkan menjadi tiga golongan sebagaimana tertuang dalam lampiran 1 undang-undang. Yang termasuk jenis narkotika adalah Tanaman papaver, opium mentah, opium masak (candu, jicing, jicingko), opium obat, morfina, kokaina, ekgonina, tanaman ganja, dan damar ganja. Garam-garam dan turunan-turunan dari morfina dan kokaina, serta campuran-campuran dan sediaan-sediaan yang mengandung bahan tersebut di atas.
Psikotropika menurut pasal 1 UU No 5 tahun 1997 tentang Psikotropika adalah zat atau obat, baik alamiah maupun sintetis bukan narkotika, yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku.
Berdasarkan UU No 5 tahun 1997, Psikotopika dikelompokan dalam golongan I, II, III dan IV. Namun berdasarkan UU No 35 tahun 2009, golongan I dan II psikotropika tersebut dipindahkan dalam golongan I Narkotika. Adapun golongan III psikotropika terdiri dari 9 (sembilan) zat/ senyawa, diantaranya : Amobarbital, Flunitrazepam, Bromazepam, dan lain – lain. Sedangkan Golongan IV terdiri dari 60 (enam puluh) zat/ senayawa, diantaranya : Allobarbital, Alprazolam, Aminorex, Etil amfetamina, Vinilbital, dan lain – lain.
Psikotropika adalah obat keras bukan narkotika, digunakan dalam dunia pengobatan sesuai Permenkes RI No. 124/Menkes/Per/II/93, namun dapat menimbulkan ketergantungan psikis fisik jika dipakai tanpa pengawasan akan sangat merugikan karena efeknya sangat berbahaya seperti narkotika. Psikotropika merupakan pengganti narkotika, karena narkotika mahal harganya. Penggunaannya biasa dicampur dengan air mineral atau alkohol sehingga efeknya seperti narkotika.
Kata Kunci : Narkotika, Psikotropika, Undang-undang.
Pendahuluan
Penyalahgunaan narkotika di Indonesia sudah sampai ketingkat yang sangat mengkhawatirkan, fakta dilapangan menunjukan bahwa 50% penghuni Lembaga Masyarakat (lembaga pemasyarakatan) disebabkan oleh kasus Narkotika dan Psikotropika atau narkotika. Berita kriminal di media masa, baik media cetak maupun elektronik dipenuhi oleh berita penyalahgunaan narkotika. Korbannya meluas kesemua lapisan masyarakat dari pelajar, mahasiswa, artis, ibu rumah tangga, pedagang , supir angkot, anak jalanan, pejabat dan lain sebagainya. Narkotika dan Psikotropika dengan mudahnya dapat diracik sendiri yang sulit didiktesi. Pabrik Narkotika dan Psikotropika secara ilegal pun sudah didapati di Indonesia.
Penegakan hukum terhadap tindak pidana narkotika telah banyak dilakukan oleh aparat penegakan hukum dan telah banyak mendapatkan putusan hakim di sidang pengadilan. Penegakan hukum ini diharapkan mampu sebagai faktor penangkal terhadap merebaknya peredaran perdagangan Narkotika dan Psikotropika atau narkotika seperti tindak pidana Narkotika dan Psikotropika atau narkotika berdasarkan undang-undang nomor 35 tahun 2009 (UU No.35 tahun 2009), memberikan sangsi pidana cukup berat, di samping dapat dikenakan hukuman badan dan juga dikenakan pidana denda, tapi dalam kenyataanya para pelakunya justru semakin meningkat. Hal ini disebabkan oleh faktor penjatuhan sangsi pidana tidak memberikan dampak atau deterrent effect terhadap para pelakunya.
Gejala atau fenomena terhadap penyalahgunan narkotika dan upaya penanggulangannya saat ini sedang mencuat dan menjadi perdebatan para ahli hukum. Penyalahgunaan Narkotika dan Psikotropika atau narkotika sudah mendekati pada suatu tindakan yang sangat membahayakan, tidak hanya menggunakan obat-obatan saja, tetapi sudah meningkat kepada pemakaian jarum suntik yang pada akhirnya akan menularkan HIV. Padahal jika Narkotika dan Psikotropika digunakan sesuai dosis yang di anjurkan, maka penggunaannya tidak berbahaya. Bahkan obat ini digunakan salah satunya untuk hipnotik dalam operasi di bidang kedokteran, serta manfaat untuk bahan baku obat di bidang farmasi.
PEMBAHASAN
Maraknya penyalahgunaan obat-obatan terlarang membuat kita harus lebih waspada terhadap hal tersebut. Banyak sekali dampak buruk yang akan terjadi terhadap penyalahgunaan tersebut. Seperti halnya psikotropika dan narkotika yang memang rentang terhadap penyalahgunaan.
Psikotropika menurut pasal 1 UU No 5 tahun 1997 tentang Psikotropika adalah zat atau obat, baik alamiah maupun sintetis bukan narkotika, yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku.
Berdasarkan UU No 5 tahun 1997, Psikotopika dikelompokan dalam golongan I, II, III dan IV. Namun berdasarkan UU No 35 tahun 2009, golongan I dan II psikotropika tersebut dipindahkan dalam golongan I Narkotika. Adapun golongan III psikotropika terdiri dari 9 (sembilan) zat/ senyawa, diantaranya : Amobarbital, Flunitrazepam, Bromazepam, dan lain – lain. Sedangkan Golongan IV terdiri dari 60 (enam puluh) zat/ senayawa, diantaranya : Allobarbital, Alprazolam, Aminorex, Etil amfetamina, Vinilbital, dan lain – lain.
Psikotropika adalah obat keras bukan narkotika, digunakan dalam dunia pengobatan sesuai Permenkes RI No. 124/Menkes/Per/II/93, namun dapat menimbulkan ketergantungan psikis fisik jika dipakai tanpa pengawasan akan sangat merugikan karena efeknya sangat berbahaya seperti narkotika. Psikotropika merupakan pengganti narkotika, karena narkotika mahal harganya. Penggunaannya biasa dicampur dengan air mineral atau alkohol sehingga efeknya seperti narkotika. Zat yang termasuk psikotropika antara lain:
1.       Sedatin (Pil BK), Rohypnol, Magadon, Valium, Mandrax, Amfetamine, Fensiklidin, Metakualon, Metifenidat, Fenobarbital, Flunitrazepam, Ekstasi, Shabu-shabu, LSD (Lycergic Syntetic Diethylamide) dan sebagainya.
2.      Bahan Adiktif berbahaya lainnya adalah bahan-bahan alamiah, semi sintetis maupun sintetis yang dapat dipakai sebagai pengganti morfina atau kokaina yang dapat mengganggu sistem syaraf pusat, seperti:
3.       Alkohol yang mengandung ethyl etanol, inhalen/sniffing (bahan pelarut) berupa zat organik (karbon) yang menghasilkan efek yang sama dengan yang dihasilkan oleh minuman yang beralkohol atau obat anaestetik jika aromanya dihisap. Contoh: lem/perekat, aceton, ether dan sebagainya.[2]
A.     Psikotropika
Menurut Undang-undang No 5 Tahun 1979 psikotropika digolongkan menjadi :
1.       Psikotropika Golongan I
Psikotropika golongan ini adalah psikotropika yang hanya dapat digunakan untuk tujuan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi, serta mempunyai potensi sangat kuat mengakibatkan sindroma ketergantungan. Contoh: etisiklidina, tenosiklidina, dan metilendioksi metilamfetamin (MDMA).
2.      Psikotropika Golongan II
Psikotropika golongan ini adalah psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan dapat digunakan dalam terapi dan/atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi kuat mengakibatkan sindroma ketergantungan. Contoh: amfetamin, deksamfetamin, metamfetamin, dan fensiklidin.
3.       Psikotropika Golongan III
Psikotropika golongan ini adalah psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi dan/atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi sedang mengakibatkan sindroma ketergantungan. Contoh: amobarbital, pentabarbital, dan siklobarbital.
4.      Psikotropika Golongan IV
Psikotropika golongan ini adalah psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan sangat luas digunakan dalam terapi dan/atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi ringan mengakibatkan sindroma ketergantungan. Contoh: diazepam, estazolam, etilamfetamin, alprazolam.[3]
B.     Narkotika
Obat narkotika adalah obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintetis maupun semi sintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri dan menimbulkan ketergantungan.
Contoh : Morfin, Petidin. Obat narkotika ditandai dengan simbol palang medali atau palang swastika. Menurut Undang-undang  No. 35 tahun 2009 tentang narkotika dibagi menjadi 3 golongan, yaitu :
1.       Narkotika Golongan I
Narkotika golongan ini adalah narkotika yang hanya dapat digunakan untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi, serta mempunyai potensi sangat tinggi mengakibatkan ketergantungan. Contoh: kokain, opium, heroin, dan ganja.
2.      Narkotika Golongan II
Narkotika golongan ini adalah narkotika yang berkhasiat pengobatan, digunakan sebagai pilihan terakhir dan dapat digunakan dalam terapi dan/atau untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi tinggi mengakibatkan ketergantungan.
Contoh: fentanil, metadon, morfin, dan petidin
3.       Narkotika Golongan III
Narkotika golongan ini adalah narkotika yang berkhasiat pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi dan atau tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi ringan mengakibatkan ketergantungan. Contoh: etilmorfina kodein, dan norkodeina.
Narkotika dalam pengertian opium telah dikenal dan dipergunakan masyarakat Indonesia khususnya warga Tionghoa dan sejumlah besar orang Jawa sejak tahun 1617. Selanjutnya diketahui bahwa mulai tahun 1960-an terdapat sejumlah kecil kelompok penyalahguna heroin dan kokain.
Pada awal 1970-an mulai muncul penyalahgunaan narkotika dengan cara menyuntik. Orang yang menyuntik disebut morfinis. Sepanjang tahun 1970-an sampai tahun 1990-an sebagian besar penyalahguna kemungkinan memakai kombinasi berbagai jenis Narkotika dan Psikotropika (polydrug jser), dan pada tahun 1990-an heroin sangat populer dikalangan penyalahguna narkotika.
Pada saat ini, ancaman peredaran gelap maupun penyalahgunaan narkotika semakin meluas dan meningkat di Indonesia. Data dan Badan Narkotika Nasional Republik Indonesia, sejak tahun 2000 sampai dengan tahun 2004 telah berhasil disita narkotika seperti ganja dan derivatnya sebanyak 127,7 ton dan 787.259 batang; heroin sebanyak 93,9 kg; morfin sebanyak 244,7 gram; serta kokain sebanyak 84,7 kg.
Peraturan perundang-undangan yang mengatur narkotika di Indonesia sebenarnya telah ada sejak berlakunya Ordonansi Obat Bius (Verdoovende Middelen Ordonnantie, Staatsblad Nomor 278 Jo. 536 Tahun 1927). Ordonansi ini kemudian diganti dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1976 tentang Narkotika yang mulai berlaku tanggal 26 Juli 1976.Selanjutnya Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1976 telah diganti dengan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1997 tentang Narkotika yang mulai berlaku tanggal 1 September 1997.
Untuk wilayah indonesia sendiri peraturan mengenai tindak pidana narkotika dan psikotropika sudah diatur dalam menghadapi permasalahan Narkotika dan Psikotropika yang berkecenderungan terus miningkat, Pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR-RI) mengesahkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika dan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1997 tentang Narkotika.
Berdasarkan kedua Undang-undang tersebut, Pemerintah (Presiden Abdurahman Wahid) membentuk Badan Koordinasi Narkotika Nasional (BKNN), dengan Keputusan Presiden Nomor 116 Tahun 1999. BKNN adalah suatu Badan Koordinasi penanggulangan Narkotika dan Psikotropika yang beranggotakan 25 Instansi Pemerintah terkait. Namun dalam UU tersebut masih terdapatbeberapa kekurangan, kekurangan tersebut yaitu tidak adanaya pasal yangmengatur mengenai rehabilitasi secara khusus.
Pengertian Narkotika berdasarkan ketentuan Pasal 1 angka 1 Undang-undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, bahwa yang dimaksud dengan Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintetis maupun semisintetis, yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan.
 Narkotika yang terkenal di Indonesia sekarang ini berasal dari kata “Narkoties”, yang sama artinya dengan kata narcosis yang berarti membius. Dulu di Indonesia dikenal dengan sebutan madat. Penjelasan Umum Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika mempunyai cakupan yang lebih luas baik dari segi norma, ruang lingkup materi maupun ancaman pidana yang diperberat. Cakupan yang lebih luas tersebut selain didasarkan pada faktor-faktor diatas juga karena perkembangan kebutuhan selain didasarkan pada faktor-faktor diatas juga karena perkembangan kebutuhan dan kenyataan bahwa nilai dan norma dalam ketentuan yang berlaku tidak memadai lagi sebagai sarana efektif untuk mencegah dan memberantas penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika.
Salah satu materi baru dalam Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, dibagi menjadi 3 (tiga) golongan, mengenai bagaimana penggolongan dimaksud dari masingmasing golongan telah di rumuskan dalam Pasal 6 ayat (1) Undang-undang Narkotika. Pasal 1 angka 13 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, Pecandu Narkotika adalah Orang yang menggunakan atau menyalahgunakan Narkotika dan dalam keadaan ketergantungan pada narkotika, baik secara fisik maupun psikis sedangkan penyalah guna narkotika dalam Pasal 1 angka 15 Undang-undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika adalah Orang yang menggunakan Narkotika tanpa hak atau melawan hukum.[4]
Narkotika dan psikotropika merupakan hasil proses kemajuan teknologi untuk dipergunakan kepentingan pengobatan dan ilmu pengetahuan.[5]Pengembangan Narkotika bisa digunakan untuk pelayanan kesehatan sebagaimana diatur dalam Bab IX Pasal 53 sampai dengan Pasal 54 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 terutama untuk kepentingan Pengobatan termasuk juga untuk kepentingan Rehabilitasi. Narkotika, Psikotropika dan bahan adiktif lainnya adalah berbagai macam obat yang semestinya dimanfaatkan sesuai dengan kepentingan tertentu, misalnya pada dunia medis untuk membantu proses kerja dokter dalam melakukan operasi bedah. Akan tetapi saat ini obat-obat terlarang ini telah dikonsumsi, diedarkan dan diperdagangkan tanpa izin berwajib demi memperoleh keuntungan dan nikmat sesaat saja.
Berdasarkan UU No.35 tahun 2009 tentang Narkotika pasal 1.Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintetis maupun semi sintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan
Dalam UU No. 35/2009 jenis-jenis narkotika adalah tanaman papever, opium mentah, opium masak, seperti candu, jicing, jicingko, opium obat, morfina, tanaman koka, daun koka, kokaina mentah, kokaina, ekgonina, tanaman ganja, damar ganja, garam-garam atau turunannya dari morfin dan kokaina. Bahan lain, baik alamiah, atau sitensis maupun semi sitensis yang belum disebutkan yang dapat dipakai sebagai pengganti  morfina atau kokaina yang ditetapkan mentri kesehatan sebagai narkotika, apabila penyalahgunaannya dapat menimbulkan akibat ketergantungan yang merugikan, dan campuran- campuran atau sediaan-sediaan yang mengandung garam-garam atau turunan-turunan dari morfina dan kokaina, atau bahan-bahan lain yang alamiah atau olahan yang ditetapkan mentri kesehatan sebagai narkotika
Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika mengatur upaya pemberantasan terhadap tindak pidana Narkotika melalui ancaman pidana denda, pidana penjara, pidana seumur hidup, dan pidana mati. Di samping itu, Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 juga mengatur mengenai pemanfaatan Narkotika untuk kepentingan pengobatan dan kesehatan serta mengatur tentang rehabilitasi medis dan sosial
Pembentukan UU No. 22 Tahun 1997 tentang Narkotika disebabkan semakin meningkatnya peredaran dan penyalahgunaan Narkotika di Indonesia khususnya pada tahun 1970 dengan bermacam-macam jenis yang dapat menimbulkan kecanduan dan ketergantungan bagi si pemakai yang penggunaannya diluar pengawasan dokter, juga kemungkinan bahaya besar bagi kehidupan bernegara baik dalam bidang politik, ekonomi, sosial dan budaya serta keamanan maupun ketahanan nasional bangsa Indonesia disalah satu sisi dan disisi lain untuk menjamin ketersediaan narkotika guna kepentingan kesehatan dan ilmu pengetahuan.
Munculnya UU No. 22 Tahun 1997 tentang Narkotika telah memberikan dampak yang berarti dalam penegakkan hukum di bidang Narkotika di Indonesia. Sudah banyak pelaku yang tertangkap dan diberi sanksi sesuai dengan UU narkotika, meski belum dapat menghilangkan narkotika di Indonesianamun minimal sudah mengurangi. Dari aspek penegak hukum terdapat oknum aparat penegak hukum yang justru menjadi pelaku dan tidak transparannya pemusnahan barang bukti, menjadi faktor yang menghambat upaya pemberantasan narkotika.
Sebagaimana paraturan perundang-undangan lain, UU No. 22 Tahun 1997 tentang Narkotika tidak terlepas dari kelemahan-kelemahan yang dapat dijadikan peluang bagi pelaku untuk terhindar dari sanksi pidana. Sehingga banyak pihak yang menginginkan perubahan/revisi terhadap UU No. 22 Tahun 1997 tentang Narkotika.
Indonesia merupakan salah satu Negara tempat tumbuh suburnya peredaran Narkotika (Narkotika dan Psikotropika). Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sitensis maupun semi sitensis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran bagi seseorang, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan. Narkotika merupakan zat atau obat yang sebenarnya dapat bermanfaat bagi kehidupan manusia untuk mengobati penyakit tertentu namun apabila disalahgunakan justru akan memberikan dampak negative terhadap si pemakainya. Salah satu permasalahan peredaran Narkotika dan Psikotropika adalah beredarnya Narkotika dan Psikotropika di lembaga pemasyarakatan ini menimbulkan tanda Tanya bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi.
Upaya pencegahan peredaran narkotika di lembaga pemasyarakatan harus segera dilakukan agar dapat meghentikan peredaran barang haram tersebut. Mengenai Upaya pencegahan peredaran narkotika di lembaga pemasyarakatan terdapat beberapa hal yang dapat kita lakukan, seperti menyiapkan Pusat Rehabilitasi Pemakai Narkotika dan Psikotropika, mengadakan rotasi rutin Bandar Narkotika dan Psikotropika setiap tiga bulan ke lembaga masyarakat, menempatkan pelacak sinyal, sebaiknya KaLembaga Masyarakat yang di Lembaga Masyarakatnya ada peredaran Narkotika dan Psikotropika sebaiknya dicopot, mengadakan penggrebekan rutin setiap bulannya, hukum seberat-beratnyanya sipir yang berkolusi dengan bandar Narkotika dan Psikotropika, cegah Narkotika dan Psikotropika dengan memberikan pembeajaran agama.[6]
Penanggulangan penyalahgunaan Narkotika dan Psikotropika di Indonesia saat ini belum optimal, belum terpadu dan belum menyeluruh (holistik) serta belum mencapai hasil yang diharapkan. Upaya yang dilakukan dalam penanggulangan penyalahguaan Narkotika dan Psikotropika ini melalui pendekatan Harm Minimisation, salah satunya secara garis besar dikelompokkan menjadi tiga kegiatan utama yaitu :
a.      Supply control Adalah upaya secara terpadu lintas fungsi dan lintas sektoral melalui kegiatan yang bersifat pre-emtif, preventif dan represif guna menekan atau meniadakan ketersediaan Narkotika dan Psikotropika di pasaran atau di lingkungan masyarakat. Intervensi yang dilakukan mulai dari cultivasi/penanaman, pabrikasi/pemrosesan dan distribusi/ peredaran Narkotika dan Psikotropika tersebut.
b.      Demand reduction Adalah upaya secara terpadu lintas fungsi dan lintas sektoral melalui kegiatan yang bersifat pre-emtif, preventif, kuratif dan rehabilitatif guna meningkatkan ketahanan masyarakat sehingga memiliki daya tangkal dan tidak tergoda untuk melakukan penya-lahgunaan Narkotika dan Psikotropika baik untuk dirinya sendiri maupun masyarakat sekelilingnya.
c.       Harm reduction Adalah upaya secara terpadu lintas fungsi dan lintas sektoral melalui kegiatan yang bersifat preventif, kuratif dan rehabilitatif dengan intervensi kepada korban/pengguna yang sudah ketergan-tungan agar tidak semakin parah/membahayakan bagi dirinya dan mencegah agar tidak terjadi dampak negatif terhadap masyarakat di lingkungannya akibat penggunaan Narkotika dan Psikotropika tersebut.
Kesimpulan
Munculnya UU No. 22 Tahun 1997 tentang Narkotika telah memberikan dampak yang berarti dalam penegakkan hukum di bidang Narkotika di Indonesia. Sudah banyak pelaku yang tertangkap dan diberi sanksi sesuai dengan UU narkotika, meski belum dapat menghilangkan narkotika di Indonesianamun minimal sudah mengurangi. Dari aspek penegak hukum terdapat oknum aparat penegak hukum yang justru menjadi pelaku dan tidak transparannya pemusnahan barang bukti, menjadi faktor yang menghambat upaya pemberantasan narkotika.
Psikotropika menurut pasal 1 UU No 5 tahun 1997 tentang Psikotropika adalah zat atau obat, baik alamiah maupun sintetis bukan narkotika, yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku.
Berdasarkan UU No 5 tahun 1997, Psikotopika dikelompokan dalam golongan I, II, III dan IV. Namun berdasarkan UU No 35 tahun 2009, golongan I dan II psikotropika tersebut dipindahkan dalam golongan I Narkotika. Adapun golongan III psikotropika terdiri dari 9 (sembilan) zat/ senyawa, diantaranya : Amobarbital, Flunitrazepam, Bromazepam, dan lain – lain. Sedangkan Golongan IV terdiri dari 60 (enam puluh) zat/ senayawa, diantaranya : Allobarbital, Alprazolam, Aminorex, Etil amfetamina, Vinilbital, dan lain – lain.



Daftar Pustaka
http://alamandadesta.blogspot.co.id/2014/05/narkotika-dan-psikotropika.html
Siswanto, Sunarso.2004. Penegakan Hukum Psikotropika Dalam Kajian Sosiologi Hukum.(Jakarta.Pt.Raja Grafindo Persada). hlm 111



[1] Penulis adalah Mahasiswi semester VI Jurusan Perbandingan Madzhab dan Hukum Fakultas Syari’ah dan Hukum Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung. Seluruh Korespondensi tentang isi makalah ini dapat dialamatkan kepada : ervinamardiani@gmail.com atau ke 081911953548.

[2] http://alamandadesta.blogspot.co.id/2014/05/narkotika-dan-psikotropika.html
[3] http://www.apotekers.com/2017/01/pembagian-psikotropika-dan-narkotika.html
[4] http://www.hukumonline.com/klinik/detail/lt50f7931af12dc/keterkaitan-uu-narkotika-dengan-uu-psikotropika
[5] Siswanto, Sunarso.2004. Penegakan Hukum Psikotropika Dalam Kajian Sosiologi Hukum.(Jakarta.Pt.Raja Grafindo Persada). hlm 111
[6] http://alamandadesta.blogspot.co.id/2014/05/narkotika-dan-psikotropika.html

Sabtu, 17 Juni 2017

Kumpulan kitab Madzhab Fiqih Nama Kitab, Pengarang, Tahun hidup & wafat (versi Arab)

فقه حنفي
1.الكتاب: الأصل المعروف بالمبسوط
المؤلف: أبو عبد الله محمد بن الحسن بن فرقد الشيباني (المتوفى: 189هـ)
المحقق: أبو الوفا الأفغاني
الناشر: إدارة القرآن والعلوم الإسلامية - كراتشي
عدد الأجزاء: 5
2.الكتاب: الحجة على أهل المدينة
المؤلف: أبو عبد الله محمد بن الحسن بن فرقد الشيباني (المتوفى: 189هـ)
المحقق: مهدي حسن الكيلاني القادري
الناشر: عالم الكتب - بيروت
الطبعة: الثالثة، 1403
عدد الأجزاء: 4
[ترقيم الكتاب موافق للمطبوع]
3.الكتاب: السير
المؤلف: أبو عبد الله محمد بن الحسن بن فرقد الشيباني (المتوفى: 189هـ)
المحقق: مجيد خدوري
الناشر: الدار المتحدة للنشر - بيروت
الطبعة: الأولى، 1975
عدد الأجزاء: 1
[ترقيم الكتاب موافق للمطبوع]
4.الكتاب: الكسب
المؤلف: أبو عبد الله محمد بن الحسن بن فرقد الشيباني (المتوفى: 189هـ)
المحقق: د. سهيل زكار
الناشر: عبد الهادي حرصوني - دمشق
الطبعة: الأولى، 1400
عدد الأجزاء: 1
[ترقيم الكتاب موافق للمطبوع]
5.الكتاب: النتف في الفتاوى
المؤلف: أبو الحسن علي بن الحسين بن محمد السُّغْدي، حنفي (المتوفى: 461هـ)
المحقق: المحامي الدكتور صلاح الدين الناهي
الناشر: دار الفرقان / مؤسسة الرسالة - عمان الأردن / بيروت لبنان
الطبعة: الثانية، 1404 - 1984
[ترقيم الكتاب موافق للمطبوع]
6.الكتاب: المبسوط
المؤلف: محمد بن أحمد بن أبي سهل شمس الأئمة السرخسي (المتوفى: 483هـ)
الناشر: دار المعرفة - بيروت
الطبعة: بدون طبعة
تاريخ النشر: 1414هـ-1993م
عدد الأجزاء: 30
[ترقيم الكتاب موافق للمطبوع]
7.الكتاب: تحفة الفقهاء
المؤلف: محمد بن أحمد بن أبي أحمد، أبو بكر علاء الدين السمرقندي (المتوفى: نحو 540هـ)
الناشر: دار الكتب العلمية، بيروت - لبنان
الطبعة: الثانية، 1414 هـ - 1994 م.
[ترقيم الكتاب موافق للمطبوع]
8.الكتاب: شرح النكت
المؤلف: أحمد بن محمد بن عمر العتابي البخاري، أبو نصر أو أبو القاسم زين الدين الحنفي (المتوفى: 586هـ)
مؤلف الأصل (النكت) : محمد بن أحمد بن أبي سهل شمس الأئمة السرخسي (المتوفى: 483هـ)
المحقق: أبو الوفا الأفغاني
الناشر: عالم الكتب - بيروت
الطبعة: الأولى، 1406
عدد الأجزاء: 1
[ترقيم الكتاب موافق للمطبوع]
9.الكتاب: بدائع الصنائع في ترتيب الشرائع
المؤلف: علاء الدين، أبو بكر بن مسعود بن أحمد الكاساني الحنفي (المتوفى: 587هـ)
الناشر: دار الكتب العلمية
الطبعة: الثانية، 1406هـ - 1986م
عدد الأجزاء: 7
[ترقيم الكتاب موافق للمطبوع]
10.الكتاب: الهداية في شرح بداية المبتدي
المؤلف: علي بن أبي بكر بن عبد الجليل الفرغاني المرغيناني، أبو الحسن برهان الدين (المتوفى: 593هـ)
المحقق: طلال يوسف
الناشر: دار احياء التراث العربي - بيروت - لبنان
عدد الأجزاء: 4
[ترقيم الكتاب موافق للمطبوع]
11.الكتاب: متن بداية المبتدي في فقه الإمام أبي حنيفة
المؤلف: علي بن أبي بكر بن عبد الجليل الفرغاني المرغيناني، أبو الحسن برهان الدين (المتوفى: 593هـ)
الناشر: مكتبة ومطبعة محمد علي صبح - القاهرة
[ترقيم الكتاب موافق للمطبوع]
12.الكتاب: المحيط البرهاني في الفقه النعماني فقه الإمام أبي حنيفة رضي الله عنه
المؤلف: أبو المعالي برهان الدين محمود بن أحمد بن عبد العزيز بن عمر بن مَازَةَ البخاري الحنفي (المتوفى: 616هـ)
المحقق: عبد الكريم سامي الجندي
الناشر: دار الكتب العلمية، بيروت - لبنان
الطبعة: الأولى، 1424 هـ - 2004 م
عدد الأجزاء: 9
[ترقيم الكتاب موافق للمطبوع]
12.الكتاب: المحيط البرهاني في الفقه النعماني فقه الإمام أبي حنيفة رضي الله عنه
المؤلف: أبو المعالي برهان الدين محمود بن أحمد بن عبد العزيز بن عمر بن مَازَةَ البخاري الحنفي (المتوفى: 616هـ)
المحقق: عبد الكريم سامي الجندي
الناشر: دار الكتب العلمية، بيروت - لبنان
الطبعة: الأولى، 1424 هـ - 2004 م
عدد الأجزاء: 9
[ترقيم الكتاب موافق للمطبوع]
13.الكتاب: الاختيار لتعليل المختار
المؤلف: عبد الله بن محمود بن مودود الموصلي البلدحي، مجد الدين أبو الفضل الحنفي (المتوفى: 683هـ)
عليها تعليقات: الشيخ محمود أبو دقيقة (من علماء الحنفية ومدرس بكلية أصول الدين سابقا)
الناشر: مطبعة الحلبي - القاهرة (وصورتها دار الكتب العلمية - بيروت، وغيرها)
تاريخ النشر: 1356 هـ - 1937 م
عدد الأجزاء: 5
[ترقيم الكتاب موافق للمطبوع]
«المختار للفتوى» لابن مودود الموصلي بأعلى الصفحة، يليه - مفصولا بفاصل - شرحه للمؤلف نفسه
14.الكتاب: الاختيار لتعليل المختار
المؤلف: عبد الله بن محمود بن مودود الموصلي البلدحي، مجد الدين أبو الفضل الحنفي (المتوفى: 683هـ)
عليها تعليقات: الشيخ محمود أبو دقيقة (من علماء الحنفية ومدرس بكلية أصول الدين سابقا)
الناشر: مطبعة الحلبي - القاهرة (وصورتها دار الكتب العلمية - بيروت، وغيرها)
تاريخ النشر: 1356 هـ - 1937 م
عدد الأجزاء: 5
[ترقيم الكتاب موافق للمطبوع]
«المختار للفتوى» لابن مودود الموصلي بأعلى الصفحة، يليه - مفصولا بفاصل - شرحه للمؤلف نفسه
10.الكتاب: اللباب في الجمع بين السنة والكتاب
المؤلف: جمال الدين أبو محمد علي بن أبي يحيى زكريا بن مسعود الأنصاري الخزرجي المنبجي (المتوفى: 686هـ)
المحقق: د. محمد فضل عبد العزيز المراد
الناشر: دار القلم - الدار الشامية - سوريا / دمشق - لبنان / بيروت
الطبعة: الثانية، 1414هـ - 1994م
عدد الأجزاء: 2
[ترقيم الكتاب موافق للمطبوع]
16.الكتاب: تبيين الحقائق شرح كنز الدقائق وحاشية الشِّلْبِيِّ
المؤلف: عثمان بن علي بن محجن البارعي، فخر الدين الزيلعي الحنفي (المتوفى: 743 هـ)
الحاشية: شهاب الدين أحمد بن محمد بن أحمد بن يونس بن إسماعيل بن يونس الشِّلْبِيُّ (المتوفى: 1021 هـ)
الناشر: المطبعة الكبرى الأميرية - بولاق، القاهرة
الطبعة: الأولى، 1313 هـ
(ثم صورتها دار الكتاب الإسلامي ط2)
[ترقيم الكتاب موافق للمطبوع، تبيين الحقائق بأعلى الصفحة وحاشية الشِّلْبِيِّ بأسفلها مفصولا بينهما بفاصل ومميزا باختلاف في اللون]
17.الكتاب: الغرة المنيفة في تحقيق بعض مسائل الإمام أبي حنيفة
المؤلف: عمر بن إسحق بن أحمد الهندي الغزنوي، سراج الدين، أبو حفص الحنفي (المتوفى: 773هـ)
الناشر: مؤسسة الكتب الثقافية
الطبعة: الأولى 1406-1986 هـ
عدد الأجزاء: 1
[ترقيم الكتاب موافق للمطبوع وهو مذيل بالحواشي]
18.الكتاب: العناية شرح الهداية
المؤلف: محمد بن محمد بن محمود، أكمل الدين أبو عبد الله ابن الشيخ شمس الدين ابن الشيخ جمال الدين الرومي البابرتي (المتوفى: 786هـ)
الناشر: دار الفكر
الطبعة: بدون طبعة وبدون تاريخ
عدد الأجزاء: 10
[ترقيم الكتاب موافق للمطبوع]
«الهداية للمرغيناني» بأعلى الصفحة يليه - مفصولا بفاصل - شرحه «العناية شرح الهداية» للبابرتي
القسم : فقه حنفي
19.الكتاب: الجوهرة النيرة
المؤلف: أبو بكر بن علي بن محمد الحدادي العبادي الزَّبِيدِيّ اليمني الحنفي (المتوفى: 800هـ)
الناشر: المطبعة الخيرية
الطبعة: الأولى، 1322هـ
عدد الأجزاء: 2
[ترقيم الكتاب موافق للمطبوع]
القسم : فقه حنفي
20.الكتاب: الجوهرة النيرة
المؤلف: أبو بكر بن علي بن محمد الحدادي العبادي الزَّبِيدِيّ اليمني الحنفي (المتوفى: 800هـ)
الناشر: المطبعة الخيرية
الطبعة: الأولى، 1322هـ
عدد الأجزاء: 2
[ترقيم الكتاب موافق للمطبوع]
21.الكتاب: البناية شرح الهداية
المؤلف: أبو محمد محمود بن أحمد بن موسى بن أحمد بن حسين الغيتابى الحنفى بدر الدين العينى (المتوفى: 855هـ)
الناشر: دار الكتب العلمية - بيروت، لبنان
الطبعة: الأولى، 1420 هـ - 2000 م
عدد الأجزاء: 13
[ترقيم الكتاب موافق للمطبوع]
«الهداية للمرغيناني» بأعلى الصفحة يليه - مفصولا بفاصل - «البناية شرح الهداية» للعيني
22.الكتاب: لسان الحكام في معرفة الأحكام
المؤلف: أحمد بن محمد بن محمد، أبو الوليد، لسان الدين ابن الشِّحْنَة الثقفي الحلبي الحلبي (المتوفى: 882هـ)
الناشر: البابي الحلبي - القاهرة
الطبعة: الثانية، 1393 - 1973
عدد الأجزاء: 1
[ترقيم الكتاب موافق للمطبوع]
23.الكتاب: درر الحكام شرح غرر الأحكام
المؤلف: محمد بن فرامرز بن علي الشهير بملا - أو منلا أو المولى - خسرو (المتوفى: 885هـ)
الناشر: دار إحياء الكتب العربية
الطبعة: بدون طبعة وبدون تاريخ
عدد الأجزاء: 2
[ترقيم الكتاب موافق للمطبوع، ومعه حاشية الشرنبلالي]
24.الكتاب: مجمع الأنهر في شرح ملتقى الأبحر
المؤلف: إبراهيم بن محمد بن إبراهيم الحَلَبي الحنفي (المتوفى: 956هـ)
المحقق: خرح آياته وأحاديثه خليل عمران المنصور
الناشر: دار الكتب العلمية - لبنان/ بيروت
الطبعة: الأولى، 1419هـ - 1998م
عدد الأجزاء: 4
[ترقيم الكتاب موافق للمطبوع]
25.الكتاب: البحر الرائق شرح كنز الدقائق
المؤلف: زين الدين بن إبراهيم بن محمد، المعروف بابن نجيم المصري (المتوفى: 970هـ)
وفي آخره: تكملة البحر الرائق لمحمد بن حسين بن علي الطوري الحنفي القادري (ت بعد 1138 هـ)
وبالحاشية: منحة الخالق لابن عابدين
الناشر: دار الكتاب الإسلامي
الطبعة: الثانية - بدون تاريخ
عدد الأجزاء:8
[ترقيم الكتاب موافق للمطبوع، ومعه حاشية منحة الخالق]
26.الكتاب: البحر الرائق شرح كنز الدقائق
المؤلف: زين الدين بن إبراهيم بن محمد، المعروف بابن نجيم المصري (المتوفى: 970هـ)
وفي آخره: تكملة البحر الرائق لمحمد بن حسين بن علي الطوري الحنفي القادري (ت بعد 1138 هـ)
وبالحاشية: منحة الخالق لابن عابدين
الناشر: دار الكتاب الإسلامي
الطبعة: الثانية - بدون تاريخ
عدد الأجزاء:8
[ترقيم الكتاب موافق للمطبوع، ومعه حاشية منحة الخالق]
27.الكتاب: مراقي الفلاح شرح متن نور الإيضاح
المؤلف: حسن بن عمار بن علي الشرنبلالي المصري الحنفي (المتوفى: 1069هـ)
اعتنى به وراجعه: نعيم زرزور
الناشر: المكتبة العصرية
الطبعة: الأولى، 1425 هـ - 2005 م
عدد الأجزاء: 1
[ترقيم الكتاب موافق للمطبوع وهو مذيل بالحواشي]
28.الكتاب: نور الإيضاح ونجاة الأرواح في الفقه الحنفي
المؤلف: حسن بن عمار بن علي الشرنبلالي المصري الحنفي (المتوفى: 1069هـ)
المحقق: محمد أنيس مهرات
الناشر: المكتبة العصرية
الطبعة: 1246 هـ- 2005 م
عدد الأجزاء: 1
[ترقيم الكتاب موافق للمطبوع]
29.الكتاب: مجمع الأنهر في شرح ملتقى الأبحر
المؤلف: عبد الرحمن بن محمد بن سليمان المدعو بشيخي زاده, يعرف بداماد أفندي (المتوفى: 1078هـ)
الناشر: دار إحياء التراث العربي
الطبعة: بدون طبعة وبدون تاريخ
عدد الأجزاء: 2
[ترقيم الكتاب موافق للمطبوع]
30.الكتاب: حاشية الطحطاوي على مراقي الفلاح شرح نور الإيضاح
المؤلف: أحمد بن محمد بن إسماعيل الطحطاوي الحنفي - توفي 1231 هـ
المحقق: محمد عبد العزيز الخالدي
الناشر: دار الكتب العلمية بيروت - لبنان
الطبعة: الطبعة الأولى 1418هـ - 1997م
عدد الأجزاء: 1
[ترقيم الكتاب موافق للمطبوع وهو مذيل بالحواشي]
31.الكتاب: رد المحتار على الدر المختار
المؤلف: ابن عابدين، محمد أمين بن عمر بن عبد العزيز عابدين الدمشقي الحنفي (المتوفى: 1252هـ)
الناشر: دار الفكر-بيروت
الطبعة: الثانية، 1412هـ - 1992م
عدد الأجزاء: 6
[ترقيم الكتاب موافق للمطبوع]
«الدر المختار للحصفكي شرح تنوير الأبصار للتمرتاشي» بأعلى الصفحة يليه - مفصولا بفاصل - «حاشية ابن عابدين» عليه، المسماه «رد المحتار»
32.الكتاب: اللباب في شرح الكتاب
المؤلف: عبد الغني بن طالب بن حمادة بن إبراهيم الغنيمي الدمشقي الميداني الحنفي (المتوفى: 1298هـ)
حققه، وفصله، وضبطه، وعلق حواشيه: محمد محيي الدين عبد الحميد
الناشر: المكتبة العلمية، بيروت - لبنان
عدد الأجزاء: 4
[ترقيم الكتاب موافق للمطبوع]
33.الكتاب: الجامع الصغير وشرحه النافع الكبير لمن يطالع الجامع الصغير
مؤلف الجامع الصغير: أبو عبد الله محمد بن الحسن الشيباني (المتوفى: 189هـ)
مؤلف النافع الكبير: محمد عبد الحي بن محمد عبد الحليم الأنصاري اللكنوي الهندي، أبو الحسنات (المتوفى: 1304هـ)
الناشر: عالم الكتب - بيروت
الطبعة: الأولى، 1406 هـ
عدد الأجزاء: 1
[ترقيم الكتاب موافق للمطبوع]
الاسم: قره عين الأخيار لتكملة رد المحتار علي «الدر المختار شرح تنوير الأبصار» (مطبوع بآخر رد المحتار)
المؤلف: علاء الدين محمد بن (محمد أمين المعروف بابن عابدين) بن عمر بن عبد العزيز عابدين الحسيني الدمشقي (المتوفى: 1306هـ)
الناشر: دار الفكر للطباعة والنشر والتوزيع، بيروت - لبنان
[ترقيم الكتاب موافق للمطبوع]
34.الكتاب: مجلة الأحكام العدلية
المؤلف: لجنة مكونة من عدة علماء وفقهاء في الخلافة العثمانية
المحقق: نجيب هواويني
الناشر: نور محمد، كارخانه تجارتِ كتب، آرام باغ، كراتشي
عدد الأجزاء: 1
[ترقيم الكتاب موافق للمطبوع]


MUSIM YANG BERCERITA

“Kita harus siap dengan kemungkinan apapun, bahkan kemungkinan terburuk sekalipun”. Kehidupan ini tidak selalu berbicara tentang...